Sejarah Desa Panawuan:
Jantung Wisata Air Panas di Kaki Ciremai
Sejarah Desa Panawuan:
Jantung Wisata Air Panas di Kaki Ciremai
Bagi banyak wisatawan, nama Sangkanhurip di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, identik dengan kawasan peristirahatan air panas yang mewah dan menenangkan. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa sebagian besar pusat keramaian wisata tersebut—termasuk hotel-hotel ternama dan sumber air panasnya—secara administratif sebenarnya berada di dalam wilayah desa tetangganya: Desa Panawuan.
Terletak di Kecamatan Cigandamekar, Desa Panawuan adalah sebuah desa yang menyimpan sejarah panjang dan legenda (sasakala) yang menarik, yang berkaitan erat dengan tokoh-tokoh besar Jawa Barat dan asal-usul namanya yang unik.
Sejarah Desa Panawuan, seperti banyak desa lain di tatar Sunda, lebih banyak tercatat dalam tradisi lisan dan cerita rakyat (folklor) yang dituturkan oleh para sesepuh. Berdasarkan catatan di situs resmi desa, setidaknya ada dua versi legenda mengenai asal-usul nama "Panawuan".
Versi 1: Kisah Buyut Janggala dan Sunan Gunung Jati
Versi yang paling populer mengaitkan nama desa ini dengan perjalanan Syekh Syarif Hidayatullah, atau Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo penyebar Islam di Cirebon dan Jawa Barat.
Konon, dalam perjalanannya, Sunan Gunung Jati tiba di sebuah wilayah di kaki Gunung Ciremai. Beliau melihat seorang tokoh setempat yang dihormati, yang kini dikenal sebagai Bapak Buyut Djanggala (Janggala), sedang melakukan suatu pekerjaan di dekat sumber air.
Buyut Janggala saat itu sedang "menawu"—sebuah istilah dalam bahasa Sunda yang berarti menguras, menimba, atau memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain. Melihat aktivitas tersebut, Sunan Gunung Jati kemudian memberi nama tempat itu "Panawuan", yang secara harfiah berarti "tempat untuk menawu" atau "lokasi di mana terjadi aktivitas menawu air".
Legenda ini diperkuat dengan adanya sebuah situ (danau kecil) di desa tersebut yang hingga kini diberi nama Situ Janggala, sebagai penghormatan terhadap tokoh Buyut Janggala.
Versi 2: Legenda Putri Nini Galing
Versi kedua dari sasakala Panawuan berkaitan dengan kisah peperangan dan asmara. Cerita ini melibatkan seorang putri bernama Nini Galing dan seorang Adipati keturunan Kerajaan Kajene.
Singkat cerita, sang Adipati ditolak lamarannya oleh Nini Galing, yang memicu terjadinya peperangan. Legenda ini disebut-sebut menjadi asal-usul beberapa nama tempat (blok atau kampung) lain yang ada di sekitar Desa Panawuan.
Keunikan Desa Panawuan di era modern terletak pada perannya sebagai jantung pariwisata Kuningan. Meskipun nama "Sangkanhurip" (nama desa tetangganya di sebelah selatan) lebih dikenal sebagai destinasi wisata air panas, fakta administratif berbicara lain.
Menurut data desa, sekitar 90% dari objek wisata komersial, perhotelan, dan restoran yang terkenal di kawasan Sangkanhurip, sebenarnya berada di wilayah Desa Panawuan.
Desa ini dianugerahi sumber air panas alam yang melimpah, yang menjadi daya tarik utama bagi hotel-hotel besar seperti Horison Tirta Sanita, Resort Prima, Montana Hotel, dan Sutan Raja. Bisa dikatakan, Panawuan adalah "mesin" ekonomi yang menggerakkan denyut nadi wisata di kawasan tersebut.
Secara administratif, Desa Panawuan saat ini terdiri dari 3 Dusun, 3 RW, dan 8 RT. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 138 hektar.
Batas-batas wilayahnya adalah:
Utara: Desa Cilimus dan Desa Indapatra
Timur: Desa Timbang
Selatan: Desa Sangkanurip
Barat: Desa Bojong dan Desa Bandorasawetan
Berkat potensinya yang luar biasa, Desa Panawuan telah meraih berbagai prestasi. Desa ini pernah menyandang status sebagai Desa Pinunjul Wisata (Desa Wisata Unggulan) dan berhasil meraih Juara 1 Lomba Desa Tingkat Provinsi Jawa Barat pada tahun 2010.
Dari sebuah tempat yang dinamai karena aktivitas "menawu" air oleh leluhurnya, Panawuan kini telah bertransformasi menjadi salah satu desa paling vital di Kabupaten Kuningan, yang mengelola anugerah air (panas) untuk kesejahteraan warganya.