Asal Usul Desa Gunungkeling Kuningan, Dari “Gunung Pangaling-ngaling” hingga Kisah Makam Keramat di Tengah Desa
Asal Usul Desa Gunungkeling Kuningan, Dari “Gunung Pangaling-ngaling” hingga Kisah Makam Keramat di Tengah Desa
Di kaki perbukitan wilayah Cigugur, Kabupaten Kuningan, berdiri sebuah desa yang namanya terdengar unik sekaligus penuh tanda tanya: Gunungkeling. Sekilas, nama itu mungkin hanya terdengar seperti nama wilayah biasa. Namun siapa sangka, desa ini ternyata menyimpan kisah lama tentang perlindungan, peperangan, hingga makam keramat yang masih dipercaya masyarakat hingga sekarang.
Menurut cerita para sesepuh desa, nama “Gunungkeling” berasal dari istilah “Gunung Pangaling-ngaling”, yang berarti wilayah yang berada di antara bukit-bukit pasir dan dianggap sebagai tempat perlindungan. Nama itu bukan sekadar simbol, melainkan diyakini memiliki kaitan erat dengan kondisi geografis desa yang dikelilingi perbukitan.
Konon, kawasan ini sangat sulit dimasuki musuh pada masa perjuangan revolusi fisik maupun saat munculnya gerakan DI/TII Kartosuwiryo. Letaknya yang tersembunyi di antara perbukitan membuat wilayah ini dipercaya menjadi tempat yang aman dan terlindungi dari ancaman luar.
Namun cerita Gunungkeling tidak berhenti di situ.
Sebagian masyarakat percaya bahwa desa ini pertama kali dirintis oleh dua tokoh yang hingga kini masih dikenal dalam cerita turun-temurun, yakni Prabu Eyang Dipati Keling dan Eyang Baduga Jaya. Nama kedua tokoh ini masih sangat dihormati oleh sebagian warga karena diyakini memiliki peran besar dalam membuka wilayah tersebut pada masa lampau.
Yang membuat cerita ini semakin menarik, makam kedua tokoh tersebut disebut berada di tengah desa dan hingga kini dianggap keramat oleh sebagian masyarakat. Tak sedikit warga yang masih mempercayai bahwa tempat tersebut memiliki nilai spiritual dan menjadi bagian penting dari sejarah Gunungkeling.
Secara administratif, Desa Gunungkeling memiliki sejarah yang cukup panjang. Desa ini mulai berdiri sebagai wilayah mandiri sejak tahun 1880. Namun perjalanan pemerintahannya tidak berjalan mulus. Pada tahun 1901, Gunungkeling sempat kembali bergabung dengan Desa Ragawacana selama kurang lebih dua tahun sebelum akhirnya kembali berdiri sendiri pada tahun 1903 hingga sekarang.
Perjalanan panjang itu menjadikan Gunungkeling sebagai desa yang tumbuh dari berbagai dinamika zaman. Dari sebuah wilayah cantilan Desa Ragawacana, Gunungkeling perlahan berkembang menjadi desa mandiri dengan karakter masyarakat agraris yang kuat.
Saat ini, Desa Gunungkeling memiliki luas wilayah sekitar 209 hektare dengan kondisi wilayah berbukit yang mendominasi hampir seluruh kawasan desa. Letaknya berbatasan langsung dengan Desa Cisantana, Kelurahan Cipari, hingga Desa Ragawacana.
Selain dikenal dengan sejarah dan cerita leluhurnya, desa ini juga masih mempertahankan berbagai kesenian tradisional seperti seni reog, genjring, hingga marawis yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya.
Kini, di tengah perkembangan zaman dan modernisasi wilayah Cigugur, Desa Gunungkeling tetap menyimpan cerita yang sulit dipisahkan dari identitas masyarakatnya.
Tentang perbukitan yang dahulu dipercaya menjadi tempat perlindungan.
Tentang tokoh-tokoh lama yang makamnya masih dijaga hingga sekarang.
Dan tentang sebuah desa yang namanya mungkin terdengar sederhana… namun ternyata menyimpan sejarah yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan banyak orang.
Sumber:
Artikel ini disusun berdasarkan data profil dan sejarah resmi Desa Gunungkeling, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.
📍LOKASI DESA GUNUNG KELING :