Misteri di Balik Lahirnya Desa Cantilan, Berawal dari Musyawarah yang Gagal dan Peristiwa Aneh yang Tak Terlupakan
Misteri di Balik Lahirnya Desa Cantilan, Berawal dari Musyawarah yang Gagal dan Peristiwa Aneh yang Tak Terlupakan
Di wilayah selatan Kabupaten Kuningan, tepatnya di Kecamatan Selajambe, berdiri sebuah desa yang menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, perpindahan, dan sebuah peristiwa misterius yang hingga kini masih menjadi bagian dari sejarah masyarakat setempat. Desa itu adalah Cantilan. Namun siapa sangka, sebelum resmi berdiri, para pendirinya harus berpindah-pindah tempat dan menghadapi kejadian yang sulit dijelaskan oleh akal.
Menurut catatan sejarah desa, kisah ini bermula sekitar tahun 1810. Saat itu, sekitar 33 orang yang berasal dari lingkungan Sultan Keprabonan Cirebon melakukan perjalanan dan menetap sementara di Kampung Cipicung. Mereka dipimpin oleh seorang tokoh bernama Eyang Sinagar. Di tempat tersebut, para tokoh mengadakan musyawarah untuk mendirikan sebuah desa baru. Namun harapan itu belum terwujud karena musyawarah yang dilakukan tidak menghasilkan kesepakatan.
Setelah Eyang Sinagar wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh Buyut Bodas dan Embah Duyuk. Bersama para pengikutnya, mereka berpindah ke arah tenggara menuju sebuah kawasan yang dikenal sebagai Majalangu, yang kini disebut Sawah Luhur. Di tempat baru itu, para tokoh kembali berencana menggelar musyawarah untuk mendirikan desa yang selama ini mereka cita-citakan.
Namun sebelum musyawarah berlangsung, terjadi sebuah peristiwa yang hingga kini menjadi bagian paling misterius dalam sejarah Desa Cantilan.
Dikisahkan bahwa saat para tokoh hendak bermusyawarah, tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkan. Pada saat yang hampir bersamaan, permaisuri Buyut Bodas yang sedang mengayun putranya dikabarkan amblas ke dalam tanah dan tidak pernah ditemukan lagi. Peristiwa tersebut membuat para tokoh beranggapan bahwa lokasi itu tidak layak dijadikan pusat pemukiman maupun pemerintahan. Akhirnya mereka memutuskan meninggalkan tempat tersebut dan mencari lokasi baru.
Perjalanan mereka berlanjut ke arah utara dengan menyeberangi aliran Sungai Cicantelan. Setelah menemukan lokasi yang dianggap lebih baik, para tokoh kembali menggelar musyawarah. Kali ini keputusan besar berhasil dicapai. Pada tahun 1811, mereka sepakat mendirikan sebuah desa baru yang diberi nama Desa Tjantilan, yang kemudian dikenal sebagai Desa Cantilan. Tempat berlangsungnya musyawarah itu kemudian dikenal dengan nama Padukuhan atau yang sekarang disebut Blok Dukuh.
Buyut Bodas dan Embah Duyuk yang dianggap sebagai perintis desa tidak mengambil jabatan sebagai pemimpin. Mereka justru menyerahkan kepemimpinan kepada Embah Bewu yang saat itu menjabat sebagai lebe. Embah Bewu kemudian menjadi pemimpin pertama Desa Cantilan dan memimpin selama lebih dari tiga dekade, sejak tahun 1811 hingga 1843.
Sejak saat itu, Cantilan terus berkembang menjadi salah satu desa penting di Kecamatan Selajambe. Dari sebuah wilayah yang lahir melalui perjalanan panjang dan berbagai perpindahan, Cantilan tumbuh menjadi desa yang dihuni ribuan penduduk dan menjadi bagian penting dari sejarah kawasan selatan Kabupaten Kuningan.
Namun hingga kini, satu pertanyaan masih sering muncul di benak banyak orang:
Benarkah peristiwa hilangnya permaisuri Buyut Bodas menjadi alasan utama perpindahan lokasi pendirian desa?
Ataukah kisah tersebut merupakan pesan yang diwariskan leluhur agar generasi berikutnya selalu menghormati tempat-tempat yang dianggap memiliki sejarah penting?
Jawabannya mungkin telah tersimpan bersama perjalanan waktu. Namun satu hal yang pasti, dari peristiwa itulah lahir sebuah desa yang kini dikenal dengan nama Cantilan.
Sumber:
Artikel ini disusun berdasarkan sejarah resmi yang dipublikasikan oleh Pemerintah Desa Cantilan.
👉 Sejarah Desa Cantilan (Website Resmi Desa Cantilan)
📍LOKASI DESA CANTILAN :