Dari Sebuah Mimpi Lahir Nama Jatisari, Kisah Perjuangan Warga Membangun Desa dari Nol
Dari Sebuah Mimpi Lahir Nama Jatisari, Kisah Perjuangan Warga Membangun Desa dari Nol
Di Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, berdiri sebuah desa yang kini dikenal dengan nama Jatisari. Namun siapa sangka, desa yang saat ini berkembang dan memiliki identitas kuat itu sebenarnya lahir dari perjuangan panjang masyarakat yang ingin memiliki pemerintahan sendiri serta pelayanan yang lebih dekat dengan warganya.
Sebelum berdiri sebagai desa mandiri, wilayah Jatisari merupakan bagian dari dua desa induk, yaitu Desa Pamulihan dan Desa Mandapajaya. Pada awal dekade 1980-an, muncul keinginan besar dari masyarakat untuk membentuk desa baru. Keinginan tersebut bukan tanpa alasan. Masyarakat berharap pembangunan dapat lebih merata, pelayanan pemerintahan lebih cepat, dan partisipasi warga dalam pembangunan dapat semakin meningkat.
Namun mewujudkan cita-cita itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Pada tahun 1982, berbagai musyawarah mulai dilakukan. Tokoh masyarakat, pemerintah desa induk, hingga warga berkumpul untuk membahas rencana pemekaran wilayah. Perdebatan dan perbedaan pendapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Tidak cukup satu kali pertemuan, musyawarah harus dilakukan berulang kali hingga akhirnya seluruh pihak mencapai kesepakatan.
Dari kesepakatan itulah lahir sebuah panitia pemekaran desa yang dipimpin oleh D. Sujatma bersama sejumlah tokoh lainnya. Mereka kemudian bekerja keras mempersiapkan segala kebutuhan administratif dan fisik demi terwujudnya desa baru yang dicita-citakan masyarakat.
Tahun 1983 menjadi langkah penting dalam sejarah Jatisari.
Pada tahun itu, wilayah tersebut resmi berstatus sebagai desa persiapan. Berbagai pekerjaan besar mulai dilakukan. Balai desa dibangun, jalan mulai ditata, masjid didirikan, perangkat desa dipersiapkan, dan berbagai potensi desa mulai diinventarisasi. Seluruh masyarakat bergotong royong demi mewujudkan impian bersama.
Namun di tengah berbagai kesibukan itu, muncul satu persoalan yang ternyata tidak kalah sulit.
Desa baru itu belum memiliki nama.
Berbagai usulan bermunculan dalam setiap musyawarah. Ada yang mengusulkan Girijaya, Mandalajaya, Mandalawangi, hingga Mandalasari. Setiap nama memiliki pendukungnya masing-masing. Bahkan beberapa kali rapat berakhir tanpa keputusan karena sulitnya mencapai kesepakatan.
Hingga akhirnya terjadi sebuah peristiwa yang masih dikenang dalam sejarah desa.
Dalam sebuah pertemuan terakhir, seorang warga bernama Suhroni menyampaikan sebuah pesan yang diperolehnya melalui ilapat atau firasat dalam mimpi. Melalui perantara Aceng, ia mengusulkan agar nama desa yang akan dibentuk mengandung unsur "Jati" atau "Jetak".
Usulan itu kemudian menjadi bahan pertimbangan para tokoh masyarakat.
Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya disepakati nama Jatisari.
Nama tersebut memiliki makna yang mendalam. Kata "Jati" melambangkan nilai, kekuatan, dan kehormatan. Sedangkan "Sari" berarti inti rasa atau esensi kehidupan. Gabungan keduanya menjadi simbol harapan agar desa yang baru lahir ini tumbuh menjadi desa yang kuat, bermartabat, dan membawa manfaat bagi masyarakatnya.
Perjuangan panjang itu akhirnya mencapai puncaknya pada tanggal 25 Oktober 1984.
Di hadapan masyarakat, Desa Persiapan Jatisari resmi ditetapkan menjadi Desa Definitif oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan. Momen tersebut menjadi tonggak bersejarah yang menandai lahirnya Desa Jatisari sebagai desa mandiri.
Namun perjuangan belum berakhir.
Setelah resmi berdiri, berbagai pembangunan terus dilakukan. Jalan-jalan desa yang sebelumnya sulit dilalui mulai dibuka. Pada tahun 1991 jalur selatan desa sudah dapat dilalui kendaraan roda empat. Beberapa tahun kemudian, akses jalan menuju Pamulihan juga berhasil dibangun sehingga mobilitas masyarakat semakin mudah.
Prestasi demi prestasi pun mulai diraih.
Desa Jatisari berhasil menjadi Juara I Lomba Desa Tingkat Swakarya dan Juara I Usaha Ekonomi Desa. Berbagai pembangunan fisik maupun sosial terus dilakukan hingga menjadikan Jatisari sebagai salah satu desa yang berkembang di Kecamatan Subang.
Kini, lebih dari empat dekade setelah berdiri, Jatisari bukan hanya sebuah nama di peta Kabupaten Kuningan.
Ia adalah simbol perjuangan masyarakat yang berani bermimpi, berani bermusyawarah, dan berani membangun masa depan mereka sendiri.
Dan mungkin bagian paling menarik dari sejarah itu adalah satu pertanyaan yang masih sering mengundang rasa penasaran:
Apakah Desa Jatisari benar-benar lahir dari sebuah mimpi?
Ataukah mimpi itu hanyalah cara para leluhur menyampaikan harapan besar bagi generasi yang akan datang?
Sumber:
Artikel ini disusun berdasarkan sejarah resmi yang dipublikasikan oleh Pemerintah Desa Jatisari melalui website resmi desa.
👉 https://jatisari.godesa.id/artikel/148-sejarah
📍LOKASI DESA JATISARI: