Sebelum Ada Waduk Darma, Ternyata Wilayah Ini Sudah Menjadi Pusat Peradaban dan Penyebaran Islam di Kuningan
Sebelum Ada Waduk Darma, Ternyata Wilayah Ini Sudah Menjadi Pusat Peradaban dan Penyebaran Islam di Kuningan
Bagi banyak orang, nama Darma identik dengan waduk terbesar di Kabupaten Kuningan. Namun jauh sebelum bendungan dan hamparan air itu menjadi ikon wisata, wilayah Darma telah lebih dahulu dikenal sebagai salah satu kawasan penting yang menjadi pusat kehidupan masyarakat di bagian selatan Kuningan.
Tak banyak yang mengetahui bahwa sejarah Darma diperkirakan telah dimulai sejak sekitar tahun 1732. Pada masa itu, kawasan ini sudah dihuni oleh masyarakat yang masih dipengaruhi budaya Kerajaan Galuh Talaga. Jejak-jejak masa lampau tersebut dipercaya masih tersimpan dalam berbagai cerita rakyat, termasuk kisah Lutung Kasarung yang berkembang di kawasan sekitar Karangsari, Gunungsirah, hingga Sagarahiang. Selain cerita lisan, masyarakat juga meyakini adanya peninggalan berupa puing bangunan kuno dan situs bersejarah yang pernah ditemukan di wilayah sekitar Darma.
Namun kisah Darma tidak berhenti pada masa kerajaan.
Setelah pengaruh Islam mulai berkembang di wilayah Kuningan dan Cirebon, Darma perlahan berubah menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam. Dalam sejumlah catatan sejarah desa, disebutkan bahwa para ulama dan sesepuh mulai berdatangan ke kawasan ini untuk membuka perkampungan sekaligus menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat yang sebelumnya masih dipengaruhi tradisi animisme dan dinamisme.
Nama-nama tokoh seperti Syekh Datuk Kaliputah, Embah Marmagati, Embah Satori, Syekh Ahmad bin Huas, hingga Syekh Ibrahim disebut sebagai bagian dari generasi awal yang berperan membangun kehidupan masyarakat Darma dan wilayah sekitarnya. Dari Darma, penyebaran Islam kemudian menjangkau berbagai desa yang kini menjadi bagian dari Kecamatan Darma.
Yang lebih menarik lagi, asal-usul nama Darma sendiri masih menyimpan misteri.
Salah satu versi menyebutkan bahwa nama Darma berasal dari istilah Darul Ma'i, yang berarti negeri atau tempat air. Julukan ini dianggap sesuai dengan kondisi wilayah Darma yang sejak dahulu dikenal memiliki sumber mata air yang melimpah dan tanah yang subur. Versi lain menyebutkan bahwa nama Darma merupakan penggalan dari kata Dermayu atau Indramayu, karena konon ada seorang ulama dari wilayah tersebut yang pernah datang dan memberi nama bagi kawasan ini.
Terlepas dari versi mana yang paling mendekati kebenaran, satu hal yang sulit dibantah adalah posisi penting Darma dalam sejarah wilayah selatan Kuningan.
Wilayah ini berkembang menjadi pusat kegiatan masyarakat, pusat perdagangan lokal, sekaligus pusat pendidikan agama. Bahkan hingga saat ini, tradisi penghormatan kepada para sesepuh dan pendiri desa masih terus dilestarikan melalui kegiatan haul yang rutin diselenggarakan masyarakat Darma.
Dari dua kampung kecil yang dahulu dikenal sebagai Dukuh Kidul dan Dukuh Kaler, Darma tumbuh menjadi pusat kecamatan yang ramai dan berkembang. Keberadaan waduk yang kemudian dibangun pada masa berikutnya semakin mengangkat nama Darma hingga dikenal luas oleh masyarakat Jawa Barat.
Namun di balik keindahan waduk dan pesona alamnya hari ini, tersimpan kisah yang jauh lebih tua.
Sebuah kisah tentang para ulama, para perintis kampung, dan sebuah wilayah yang sejak ratusan tahun lalu telah menjadi pusat kehidupan masyarakat di kaki pegunungan Kuningan.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa nama Darma tetap bertahan hingga sekarang—karena sejarahnya sudah dimulai jauh sebelum banyak desa lain lahir di sekitarnya.
Sumber Utama:
Website Resmi Desa Darma – Sekilas Sejarah/Babad Desa Darma
📍LOKASI DESA DARMA: