Dari Perselisihan Dua Saudara hingga Lahirnya Sebuah Desa, Begini Asal-Usul Karanganyar di Kaki Gunung Ciremai
Dari Perselisihan Dua Saudara hingga Lahirnya Sebuah Desa, Begini Asal-Usul Karanganyar di Kaki Gunung Ciremai
Di kaki Gunung Ciremai, tepat di wilayah perbatasan Kabupaten Kuningan dan Majalengka, berdiri sebuah desa yang menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, perselisihan keluarga, hingga lahirnya sebuah pusat ilmu bela diri yang kelak berkembang menjadi pemukiman masyarakat.
Desa itu adalah Karanganyar.
Namun jauh sebelum dikenal dengan nama tersebut, wilayah ini memiliki nama yang berbeda. Menurut catatan sejarah yang tersimpan dalam website resmi desa, Karanganyar berasal dari sebuah tempat yang dikenal dengan nama Makalangan Anyar. Dalam bahasa setempat, nama itu diartikan sebagai "peranan baru" atau sebuah tempat yang dibentuk untuk menjalankan tugas baru dalam mempertahankan wilayah.
Di sinilah kisah itu bermula.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Makalangan Anyar didirikan oleh seorang tokoh bernama Embah Demang Soka. Ia merupakan adik dari tokoh yang dikenal sebagai Sunan Parung. Namun hubungan keduanya tidak selalu berjalan harmonis.
Dalam salah satu versi sejarah yang berkembang di masyarakat, Embah Demang Soka dan Sunan Parung kerap mengalami perbedaan pandangan hingga memunculkan perselisihan. Akibatnya, Embah Demang Soka memilih meninggalkan wilayah asalnya dan membuka tempat baru yang kemudian dikenal sebagai Makalangan Anyar.
Namun tempat itu bukan sekadar pemukiman biasa.
Di lokasi tersebut, Embah Demang Soka mendirikan sebuah paguron atau padepokan ilmu bela diri. Tujuannya bukan hanya untuk mengajarkan silat, tetapi juga membentuk kekuatan pertahanan masyarakat. Pada masa itu, wilayah tersebut disebut sedang menghadapi ancaman peperangan dengan kelompok yang masih dipengaruhi kekuasaan Hindu.
Karena itulah banyak orang dari berbagai daerah datang untuk belajar.
Salah satu yang disebut dalam sejarah adalah Kuwu Jamikar, yang diyakini berasal dari wilayah Ciawigebang. Ia datang untuk menuntut ilmu, kemudian menetap dan menikah dengan warga setempat. Dari sinilah komunitas di Makalangan Anyar semakin berkembang dan mulai membentuk kehidupan sosial yang lebih teratur.
Meski demikian, sebelum Embah Demang Soka membuka kawasan tersebut, wilayah Karanganyar sebenarnya sudah dihuni oleh sekelompok masyarakat yang hidup dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Walaupun sebagian telah memeluk Islam, berbagai ritual lama masih dijalankan secara turun-temurun.
Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah Ngarot atau hajat desa.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat melakukan persembahan dengan menyembelih domba dan menggelar berbagai pertunjukan seni tradisional. Salah satu yang paling terkenal adalah lantunan tembang Saliasih yang dibawakan oleh penari bernama Minten.
Tradisi tersebut berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Namun seiring berkembangnya ajaran Islam, muncul tokoh-tokoh yang berupaya mengubah tradisi tersebut agar lebih sesuai dengan nilai-nilai keagamaan.
Salah satu tokoh yang paling berpengaruh adalah Haji Imam, yang masih memiliki garis keturunan dari Kuwu Jamikar. Bersama murid-muridnya, termasuk K.H. Faqih, ia mulai mengarahkan masyarakat untuk meninggalkan unsur-unsur ritual yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.
Perubahan itu tidak dilakukan dengan cara memutus tradisi.
Sebaliknya, tradisi hajat desa tetap dipertahankan, tetapi diisi dengan kegiatan keagamaan seperti tilawatil Quran, doa bersama, dan syukuran. Sejak saat itu, tradisi Ngarot perlahan berubah menjadi bentuk syukur kepada Allah SWT atas hasil panen dan keselamatan masyarakat.
Perubahan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan sejarah Karanganyar.
Dari sebuah kawasan yang dikenal sebagai pusat latihan bela diri dan pertahanan, Karanganyar berkembang menjadi desa yang memiliki kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan yang kuat.
Meski tidak banyak bukti fisik yang tersisa dari paguron yang didirikan Embah Demang Soka, masyarakat meyakini jejaknya masih hidup hingga sekarang. Bahkan beberapa kesenian bela diri yang pernah berkembang di desa tersebut dipercaya memiliki hubungan dengan tradisi yang diwariskan dari padepokan lama.
Kini, Karanganyar terus berkembang sebagai salah satu desa di Kecamatan Darma.
Namun di balik kehidupan masyarakat yang berjalan seperti biasa hari ini, tersimpan sebuah kisah yang menarik untuk dikenang.
Bahwa sebuah desa tidak selalu lahir dari kerajaan besar atau peperangan besar.
Kadang sebuah desa lahir dari keputusan seorang tokoh yang memilih meninggalkan tempat asalnya, membuka wilayah baru, dan membangun harapan baru bagi generasi yang datang setelahnya.
Sumber:
Artikel ini disusun berdasarkan sejarah resmi yang dipublikasikan oleh Pemerintah Desa Karanganyar, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan.
Referensi Resmi:
Website Resmi Desa Karanganyar – Deskripsi Singkat
📍LOKASI DESA KARANGAYAR: