Sejarah Desa Cageur, Berawal dari Eyang Dalem Cageur hingga Menjadi Desa Otonom di Kecamatan Darma
Sejarah Desa Cageur, Berawal dari Eyang Dalem Cageur hingga Menjadi Desa Otonom di Kecamatan Darma
Di kawasan selatan Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, terdapat sebuah desa yang memiliki sejarah erat dengan penyebaran agama Islam serta warisan budaya yang masih terjaga hingga sekarang. Desa tersebut adalah Desa Cageur, sebuah desa yang namanya tidak hanya memiliki makna "sehat", tetapi juga berasal dari kisah seorang ulama yang dihormati masyarakat, yakni Eyang Dalem Cageur.
Sejarah Desa Cageur tidak dapat dipisahkan dari sosok Eyang Dalem Cageur, yang dalam berbagai cerita masyarakat dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam di wilayah Darma dan sekitarnya. Menurut sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun, beliau diutus untuk menyebarkan ajaran Islam di kawasan yang kini meliputi Desa Cageur, Dayeuhkolot, hingga Tarikolot. Hingga kini, makam Eyang Dalem Cageur masih terawat dengan baik dan menjadi salah satu situs budaya sekaligus tujuan wisata religi di Kabupaten Kuningan.
Asal-usul nama Cageur sendiri memiliki cerita yang menarik. Dalam bahasa Sunda, cageur berarti sehat atau pulih. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, suatu ketika seorang bangsawan yang dalam beberapa sumber disebut sebagai Pangeran Arya Kemuning, datang ke wilayah tersebut dalam keadaan sakit. Setelah menggunakan air dari sebuah mata air yang dikenal sebagai Cikahuripan atau Cikajayaan, yang dipercaya merupakan bekas tempat berwudu Eyang Dalem Cageur, penyakit yang dideritanya berangsur sembuh. Peristiwa inilah yang kemudian dipercaya menjadi asal mula penamaan wilayah tersebut sebagai Cageur, yang berarti kembali sehat.
Selain dikenal sebagai penyebar agama Islam, Eyang Dalem Cageur juga dikaitkan dengan berbagai kisah sejarah dan legenda masyarakat. Salah satunya adalah cerita mengenai cikal bakal Waduk Darma. Dalam tradisi lisan masyarakat, beliau dipercaya pernah membuat sebuah bendungan sederhana yang kemudian menjadi awal munculnya kawasan yang kelak berkembang menjadi Waduk Darma. Meski kisah tersebut lebih banyak hidup sebagai cerita rakyat dan belum didukung bukti sejarah tertulis, legenda ini tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Desa Cageur.
Secara administratif, Desa Cageur merupakan desa hasil pemekaran dari wilayah Desa Sakerta. Berdasarkan data yang dihimpun dalam laporan akademik Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung, Desa Cageur resmi berdiri sebagai desa otonom pada tahun 1945 bersamaan dengan terbentuknya Desa Sakerta Barat dan Desa Sukarasa. Kepala desa pertama yang memimpin desa ini adalah Karta Disastra, yang menjabat sejak 1945 hingga 1961. Sejak saat itu, Desa Cageur terus berkembang sebagai salah satu desa di Kecamatan Darma dengan dua wilayah dusun utama, yaitu Dusun Cageur dan Dusun Dayeuhkolot.
Keberadaan Situs Budaya Eyang Dalem Cageur turut menjadi bagian penting dalam perjalanan desa ini. Situs yang berada di kawasan hutan lindung tersebut memiliki luas sekitar 12 hektare dan tidak hanya menyimpan makam Eyang Dalem Cageur, tetapi juga berbagai petilasan serta mata air yang masih dijaga kelestariannya. Pemerintah Desa bersama masyarakat, Perhutani, dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) terus berupaya mengembangkan kawasan ini sebagai destinasi wisata religi, wisata budaya, sekaligus kawasan konservasi alam.
Selain memiliki nilai sejarah, Desa Cageur juga dikenal dengan kondisi alamnya yang sejuk. Letaknya yang berada di dataran tinggi membuat desa ini kerap diselimuti kabut pada pagi hari. Kawasan hutannya yang masih alami menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna serta berfungsi sebagai daerah resapan air yang penting bagi wilayah sekitar. Keindahan alam tersebut menjadikan Desa Cageur memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai desa wisata berbasis sejarah, budaya, dan lingkungan.
Kini, Desa Cageur terus berkembang tanpa meninggalkan akar sejarahnya. Nama yang berarti "sehat" bukan hanya menjadi identitas desa, tetapi juga menjadi simbol harapan akan kehidupan masyarakat yang harmonis, sehat, dan tetap menjaga warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Melalui keberadaan Situs Eyang Dalem Cageur dan sejarah panjang penyebaran Islam di wilayah Darma, desa ini menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan sejarah Kabupaten Kuningan.
Sumber utama:
Mbah Dalem Cageur, Potret Sejarah Penyebaran Islam dan Pelopor Pembuatan Waduk - Kuningan Mass
📍LOKASI DESA CAGEUR: