Jejak Pangeran Mataram di Selatan Kuningan, Benarkah Desa Subang Berawal dari Kisah Wirananggapati?
Jejak Pangeran Mataram di Selatan Kuningan, Benarkah Desa Subang Berawal dari Kisah Wirananggapati?
Di kaki pegunungan selatan Kabupaten Kuningan, berdiri sebuah desa yang namanya kini menjadi identitas satu kecamatan. Namun sedikit yang mengetahui bahwa menurut sejarah yang diwariskan masyarakat dan dicatat dalam profil resmi desa, asal-usul Desa Subang tidak berawal dari seorang petani atau perintis biasa. Nama desa ini justru dikaitkan dengan seorang bangsawan dari Kerajaan Mataram yang memilih meninggalkan kehidupan istana untuk mengembara ke tanah Sunda.
Konon, tokoh tersebut adalah Raden Wirananggapati, seorang putra raja Mataram. Dengan restu ibunya dan berbekal pusaka bernama Karembong Lokcan, ia meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencari pengalaman di negeri yang jauh. Perjalanannya membawanya ke sebuah pesantren di wilayah Ciketug, yang kini masuk Desa Pamulihan, Kecamatan Subang. Di sanalah kisah yang kelak menjadi bagian dari sejarah Desa Subang dimulai.
Saat pertama kali tiba, Wirananggapati tidak tampil layaknya seorang bangsawan. Penampilannya yang sederhana membuatnya diremehkan dan menjadi bahan ejekan para santri. Namun di balik pakaian lusuh yang dikenakannya, tersimpan kepribadian dan kemampuan yang tidak diketahui banyak orang. Ia kemudian dipercaya menjaga ladang milik pemimpin pesantren, yaitu Kiai Jabasraga.
Seiring berjalannya waktu, putri Kiai Jabasraga yang bernama Nyi Suka Inten mulai menaruh hati kepada Wirananggapati. Hubungan keduanya mendapat restu dari sang kiai hingga akhirnya mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Namun perjalanan hidup Wirananggapati belum berhenti di sana. Suatu ketika ia kembali ke Mataram dan terlibat dalam peristiwa yang mengubah jalan hidupnya selamanya.
Menurut cerita yang tercatat dalam sejarah desa, saat berada di Mataram ia berhasil melumpuhkan seekor banteng yang mengamuk dan menghancurkan lingkungan istana. Dengan menggunakan pusaka Karembong Lokcan, Wirananggapati berhasil menaklukkan hewan tersebut. Keberhasilannya membuat Raja Mataram mengakui identitasnya dan memberikan kepercayaan besar kepadanya. Ia kemudian ditugaskan memimpin wilayah yang kelak berkembang menjadi Desa Subang.
Yang lebih menarik lagi, sejarah desa menyebut bahwa Wirananggapati sebenarnya bernama Raden Mas Muryah Martapura atau Pangeran Adipati Anom, seorang pewaris tahta Kerajaan Mataram dari garis keturunan Panembahan Krapyak. Bahkan dalam silsilah yang dicatat desa, ia disebut sebagai saudara dari Raden Mas Rangsang yang kemudian dikenal dalam sejarah Nusantara sebagai Sultan Agung, salah satu raja terbesar Kerajaan Mataram.
Karena itulah masyarakat Desa Subang meyakini bahwa Wirananggapati merupakan tokoh penting yang menjadi cikal bakal berdirinya desa mereka. Dari sosok pengembara yang meninggalkan kemegahan istana, lahirlah sebuah pemukiman yang terus berkembang hingga menjadi Desa Subang seperti yang dikenal saat ini.
Menariknya, hingga sekarang nama Wirananggapati masih hidup dalam ingatan masyarakat. Bahkan alamat kantor desa menggunakan nama jalan Wirananggapati, seolah menjadi pengingat bahwa sejarah desa ini tidak pernah lepas dari sosok yang dipercaya sebagai pendirinya.
Kini, setelah berusia hampir empat abad dan merayakan milangkala yang menandai kelahirannya sekitar tahun 1630, Desa Subang tetap mempertahankan berbagai tradisi dan budaya yang diwariskan para leluhurnya. Sebuah desa yang tidak hanya menyimpan keindahan alam selatan Kuningan, tetapi juga kisah yang menghubungkannya dengan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Jawa.
Sumber: Cerita ini disusun berdasarkan sejarah resmi yang dipublikasikan oleh Pemerintah Desa Subang melalui halaman sejarah desa.
👉 Website Resmi Desa Subang - Sejarah Singkat Desa Subang
📍LOKASI DESA SUBANG: