Desa yang Pernah "Dihapus" dari Peta, Kisah Karangsari yang Dua Kali Memperjuangkan Statusnya
Desa yang Pernah "Dihapus" dari Peta, Kisah Karangsari yang Dua Kali Memperjuangkan Statusnya
Tidak semua desa lahir dalam sekali perjalanan.
Di Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, terdapat sebuah desa yang pernah merasakan bagaimana rasanya berdiri sendiri, kemudian kehilangan statusnya, lalu bangkit kembali untuk memperjuangkan haknya. Desa itu adalah Karangsari.
Jauh sebelum bernama Karangsari, wilayah ini dikenal sebagai Kampung Karees dan masih menjadi bagian dari Desa Sagarahiang. Kehidupan masyarakat saat itu berjalan sederhana di tengah kawasan pegunungan yang menjadi bagian dari wilayah selatan Kuningan. Namun seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya kehidupan masyarakat, muncul keinginan untuk memiliki pemerintahan sendiri.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil pada tahun 1938.
Masyarakat mengajukan permohonan kepada pemerintah agar Kampung Karees dipisahkan dari Desa Sagarahiang dan berdiri sebagai desa baru bernama Karangsari. Permohonan tersebut disetujui dan Sastra Santana dipercaya menjadi kepala desa pertama dalam masa percobaan. Bagi masyarakat saat itu, lahirnya Karangsari menjadi simbol harapan baru bagi masa depan kampung mereka.
Namun harapan itu ternyata belum bertahan lama.
Hanya berselang satu tahun, pemerintah menilai Karangsari belum memenuhi syarat untuk berdiri sebagai desa mandiri. Akibatnya, pada tahun 1939 status desa tersebut dicabut dan Karangsari kembali menjadi kampung yang bergabung dengan Desa Sagarahiang. Selama kurang lebih tiga tahun, masyarakat harus menerima kenyataan bahwa desa yang mereka perjuangkan tidak lagi berdiri sendiri.
Banyak desa mungkin akan menyerah dalam keadaan seperti itu.
Tetapi tidak dengan masyarakat Karangsari.
Pada tahun 1943 mereka kembali mengajukan permohonan pemisahan kepada pemerintah. Kali ini perjuangan tersebut membuahkan hasil yang berbeda. Pemerintah menyetujui permohonan masyarakat dan Karangsari kembali berdiri sebagai desa yang mandiri. Sejak saat itu, status Desa Karangsari tidak pernah berubah lagi hingga sekarang.
Tokoh yang kemudian dikenang sebagai kepala desa pertama setelah Karangsari resmi menjadi desa definitif adalah Suanta Disastra. Di bawah kepemimpinannya, masyarakat menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari masa penjajahan Belanda hingga gangguan keamanan yang muncul pada masa DI/TII di awal tahun 1950-an. Meski demikian, Karangsari tetap bertahan dan terus berkembang.
Kisah Karangsari mungkin tidak dipenuhi legenda kerajaan atau cerita mistis yang diwariskan turun-temurun. Namun justru di situlah letak keistimewaannya.
Sejarah Karangsari adalah kisah tentang kegigihan masyarakat biasa yang tidak menyerah ketika impian mereka runtuh. Sebuah kampung yang pernah kehilangan statusnya, tetapi memilih bangkit kembali dan memperjuangkan masa depannya hingga berhasil menjadi desa yang berdiri kokoh sampai hari ini.
Sumber Utama:
📍LOKASI DESA KARANGSARI: