Dari Seorang Wiku hingga Lahirnya Desa Sakerta, Kisah yang Diyakini Menjadi Awal Sejarah Sakerta Timur dan Sakerta Barat
Dari Seorang Wiku hingga Lahirnya Desa Sakerta, Kisah yang Diyakini Menjadi Awal Sejarah Sakerta Timur dan Sakerta Barat
Di Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, terdapat dua desa yang memiliki akar sejarah yang sama, yaitu Sakerta Timur dan Sakerta Barat. Jauh sebelum keduanya berdiri sebagai desa yang terpisah, wilayah ini dikenal sebagai Desa Sakerta, sebuah kawasan yang konon telah dihuni sejak masa ketika ajaran Hindu masih berkembang di Tatar Sunda.
Berdasarkan sebuah naskah sejarah yang beredar di masyarakat, asal-usul nama Sakerta dikaitkan dengan seorang wiku atau pendeta pertapa bernama Sanghiyang Kirita. Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, Sanghiyang Kirita berasal dari wilayah timur, yang dipercaya berada di kawasan Mundu, pesisir Cirebon. Ia kemudian menetap di kawasan Pasir Gunung Batu dan mengajarkan ajaran Hindu kepada masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Tempat pertapaan Sanghiyang Kirita disebut berada di sebuah batu yang dikenal dengan nama Bakar Wulung. Masyarakat meyakini bahwa dari tempat itulah kehidupan mulai berkembang dan kawasan yang kelak menjadi Sakerta mulai dikenal oleh penduduk sekitar. Nama "Sakerta" sendiri diyakini muncul sebagai bentuk penghormatan kepada sang wiku yang pertama kali membuka wilayah tersebut.
Seiring berjalannya waktu, ajaran Islam mulai masuk ke wilayah Kuningan melalui Cirebon. Dalam cerita masyarakat, Sanghiyang Kirita kemudian meninggalkan tempat pertapaannya dan berpesan agar masyarakat melanjutkan kehidupan dengan ajaran baru yang mulai berkembang.
Konon, sebelum menghilang, terjadi peristiwa yang dianggap luar biasa. Langit mendadak menjadi gelap, lalu kembali terang hanya dalam sekejap. Sejak saat itu Sanghiyang Kirita tidak pernah terlihat lagi. Karena diyakini memiliki kesaktian "Ajian Ngahiyang", kawasan tempat pertapaannya kemudian dikenal dengan nama Hutan Sanghiyang. Kisah ini hingga kini masih menjadi bagian dari cerita rakyat masyarakat Sakerta.
Setelah wilayah tersebut mulai ramai dihuni, seorang tokoh yang dikenal sebagai Embah Buyu Gede disebut menjadi orang pertama yang membangun rumah di kawasan bekas ladang huma yang dinamakan Rumah Seubeuh. Kehadiran permukiman itu kemudian menarik masyarakat lain untuk datang dan menetap hingga terbentuk sebuah desa yang semakin berkembang.
Dalam sejarah lisan masyarakat, kepala desa pertama atau kuwu yang memimpin Sakerta adalah Embah Beui. Sementara pada masa berikutnya, Desa Sakerta mencapai perkembangan yang cukup pesat ketika dipimpin oleh Buyut Singadiparana atau yang lebih dikenal dengan sebutan Embah Jago.
Di bawah kepemimpinannya, wilayah Sakerta disebut membawahi beberapa kawasan yang kini telah menjadi desa tersendiri, seperti Ciceuri yang sekarang menjadi Sakerta Barat, Cibengang yang kini menjadi Sukarasa, Cageur, hingga Babakan yang sekarang termasuk wilayah Jagara. Pada masa itu pula dibangun benteng pertahanan yang dikenal dengan nama Babancong sebagai simbol kekuatan wilayah Sakerta.
Tradisi masyarakat Sakerta juga dikenal kuat. Salah satunya adalah upacara Babarit atau hajat desa yang dilaksanakan setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi. Tradisi tersebut dipercaya telah berlangsung sejak masa pemerintahan para leluhur dan masih dikenal oleh masyarakat hingga sekarang.
Kini, meski Desa Sakerta telah berkembang menjadi Sakerta Timur dan Sakerta Barat, cerita tentang Sanghiyang Kirita, para leluhur desa, serta awal berdirinya permukiman masih menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Sebagian kisah tersebut hidup sebagai sejarah lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melengkapi perjalanan panjang desa-desa di Kecamatan Darma.
Sumber Utama:
Dokumen Asal-Usul Sakerta Timur yang terdokumentasi dalam bentuk naskah digital dan memuat sejarah lisan masyarakat Desa Sakerta Timur.
https://www.scribd.com/document/393255765/asal-usul-Sakerta-Timur-docx
📍LOKASI DESA SAKERTA TIMUR: